Wanita Pelukis
- antika.rns

- Feb 25, 2019
- 2 min read
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati.......
Terdengar sepotong lirik lagu cinta yang diputar dari radio saat aku berkendara dengannya di sore hari yang sendu ini. Dalam sunyi kami berkendara sudah hampir 2 jam lamanya. Aku tak tahu kemana tujuan kami, sedari awal ia menjemputku dan hanya berucap kita akan ke Senopati. Ha? Senopati di hari kerja? Apa dia sudah gila? Oh ya kuingat dia baru saja terbebas dari kewajiban paginya dan menjadi orang bebas.
Tapi kenapa berkeliling begitu jauh jika memang ingin ke Senopati? Kuurungkan bertanya padanya, karena semakin cepat kita sampai semakin cepat pula kita berpisah dan aku tak mau hal itu terjadi. Aku diam dan hanya sesekali menjawab pertanyaannya. Hanya suara dari radio yang memecah keheningan kami. Kulihat seperti ada yang sendu di matanya. Apa gerangan yang terjadi? Tapi aku tak berani bertanya, mungkin dia mengajakku untuk membicarakannya.
Pada akhirnya kami pun terjebak padatnya Jakarta di sore hari karena rute yang tak menentu ini.
“Kamu tahu apa bedanya jatuh cinta dan jatuh hati?” tanyanya.
“Jatuh cinta itu pakai nafsu kalau jatuh hati itu pakai hati dan keikhlasan.” jawabku sekenanya.
“Yaaa, tidak salah juga jawabanmu itu. Sepertnya aku jatuh hati dengannya.” jawabnya datar
Senyum palsu yang bisa kuperlihatkan padanya. Yaaa seperti dugaanku ia pasti sedang sendu dan benar saja cintanya bertepuk sebelah tangan dengan wanita pelukis itu. Entah harus bahagia atau sedih keduanya bercampur di hatiku. Di satu sisi aku bahagia wanita pelukis itu tidak menaruh hati padanya, tapi di sisi lain aku sedih yang artinya tidak ada secuil pun diriku di hatinya selain hanya sebagai pelipur laranya.
Semesta bantu aku agar kau dapat menyampaikan perasaan ini padanya bahwa aku juga berhak mendapatkan sedikit perhatian darinya. Bantu aku agar ia tahu bahwa aku juga jatuh hati kepadanya bukan sekedar jatuh cinta. Bantu aku agar ia merasakan apa yang aku rasa juga, saat bahagia bertemu dengannya, saat sedih karena sikapnya, saat kecewa melihatnya selalu datang ke pameranmu, saat bangga sewaktu kau masih mau meluangkan waktumu untukku.
Pada akhirnya kau memilih jalur melalui 2madison dan aku mengerti kenapa ke Senopati harus memutar jauh seperti ini. Kamu berharap melihatnya disana kan? Tak apa aku mengerti karena rasa tertolak pada seseorang tidak akan sembuh secepat itu. Tak apa aku mengerti kalau kau masih menunggunya, aku pun akan selalu menunggumu hingga kau lelah dan berpaling padaku dan mengerti akan semua rasa yang selalu kuberikan padamu.
Tak apa hatimu melayang padanya malam ini, yang terpenting malam ini di Senopati ragamu milikku seutuhnya hingga pagi menjelang.
Senopati - 2madison, Jakarta Selatan
2019



Comments