Kataomoi
- antika.rns

- Apr 13, 2019
- 3 min read
Di pojok cafe ini aku terduduk cukup lama. Entah sudah berapa gelas kopi yang kupesan sejak tadi siang. Menunggu memang adalah hal yang sangat menjengkelkan, tapi demi bertemu denganmu aku rela menghabiskan waktukku selama ini. Dua tahun sudah kita tidak berjumpa sejak kepergianku ke luar negeri. Hari ini aku pulang untuk memastikan sebuah rasa yang belum terjawab. Menanti jawaban akan keberlangsungan hatiku nanti.
Sudah setengah hari aku menunggumu disini. Dari mulai teriknya matahari hingga gelap menjelang, namun kau tak muncul juga. Tak ada pesan balasan darimu, tak ada panggilan telepon seolah kau menghilang dari bumi. Masih sabar aku menunggumu disini bahkan aku akan menunggumu hingga cafe ini tutup. Sudah lewat pukul 8 malam minuman beralkohol sudah bisa dipesan di cafe ini, aku tak ragu untuk memesannya demi menghilangkan rasa kesal kepadamu. Entah sudah berapa orang juga yang tiba-tiba menghampiriku untuk sekedar berbasa basi.
Suasana cafe mulai berubah saat pukul 9 malam. Lampu-lampu mulai meredup, hentakan musik sedikit mengeras, dan orang-orang mulai berdatangan. 2 tahun aku meninggalkan kota ini aku tak menyangka bahwa ada tempat seperti ini dimana saat siang cafe ini hanyalah cafe biasa yang bisa dikunjungi bersama keluarga namun saat malam berubah untuk usia tertentu.
Kuperhatikan sekeliling ada yang tiba-tiba berkenalan lalu pergi bersama, ada yang berdansa, di sudut sana ada sekumpulan remaja yang sudah tidak beraturan seiring bertambahnya malam dan aku tetap disini sendiri ditemani segelas minuman berwarna biru yang bahkan aku tak ingat apa namanya dan kau tetap tak berbalas.
Sedari siang sudah kusiapkan sebentuk pertanyaan yang akan kuajukan kepadamu tapi sepertinya pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab. Kuputuskan untuk menunggumu hingga pukul 1 malam dan aku memesan minum lagi dan seseorang yang tak kukenal mulai merayu lagi.
Aku sudah tidak sanggup untuk minum lagi dan tidak sanggup untuk menunggu lagi. Semua emosi meluap hingga aku hanya bisa meneteskan air mata. Kutatap layar ponselku namun tak ada satupun kabar darimu. Aku bertanya-tanya apa kau sengaja meninggalkanku disini atau kau sengaja membuatku menunggu agar aku membencimu?
Tepat pukul 1 aku pergi dari tempat itu dan bersumpah tidak akan pernah lagi mendatangi tempat itu. Aku yakinkan diri untuk meninggalkan semua pertanyaan, semua rasa, semua kenanganmu di tempat ini bahkan aku pun meninggalkan bola kristal yang sangat kau suka yang kubawa dari luar negeri untukmu. Aku tidak ingin ada lagi yang tertinggal tentang dirimu di hidupku. Saat aku melangkah keluar dari cafe ini maka semuanya berakhir dan aku tidak akan pulang lagi ke kota ini. Besok pagi aku akan meninggalkan kota ini dan melanjutkan hidupku di luar negeri hingga waktu yang tak menentu. Aku melangkah dengan sebentuk rasa yang tak terbalas.
*****************************Sore itu di hari yang sama**********************************************
Aku mendapat kabar darimu yang sudah 2 tahun tak pulang. Senang rasanya saat kau bilang kau pulang dan ingin bertemu denganku. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas menuju cafe yang kau sebutkan. Aku mengendarai motorku dengan kecepatan di atas rata-rata karena aku takut kau menunggu terlalu lama dan aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu.
Namun takdir berkata lain, aku berpikir bagaimana caranya agar cepat sampai ke tempatmu tanpa memikirkan keselamatanku, hingga akhirnya aku menerobos lampu lalu lintas dan tanpa sadar bus Trans Jakarta yang sedang melanju kencang menghantamku. Aku tak sadarkan diri dan banyak darah mengalir keluar dari tubuh ini hingga aku tak sanggup untuk bertahan lagi. Aku pergi tanpa berpamitan padamu, bahkan aku pergi sebelum bertemu denganmu. Tanpa kau sadari bahwa aku memang sudah pergi meninggalkan dunia ini.



Comments