top of page

Kedai Kopi

  • Writer: antika.rns
    antika.rns
  • Feb 18, 2020
  • 3 min read

Hujan melangkahkan kakiku menuju sebuah tempat yang tak kukenal. Tadinya aku berniat untuk berteduh sebentar di pelatarannya. Sesaat kuperhatikan melalui kaca ternyata ini adalah sebuah kedai kopi. Aku berpikir apa salahnya untuk berteduh di dalam dan sekaligus menghangatkan badan yang terguyur rintikan hujan.


Denting bel berbunyi saat aku membuka pintu. Suasananya begitu menghinoptis pandangan pertama. Catnya berwarna biru langit dan nuansanya begitu pastel. Di satu sudut dindingnya berhiaskan mural yang dilihat dari gaya lukisnya sepertinya aku mengenal gambar seperti itu. Aku memilih duduk di kursi sebelah jendela menghadap tembok mural. Sekilas aku memperhatikan sekitar, tak terlalu ramai namun auranya membuatku nyaman. Seorang pelayan datang membawa menu dan ia pun mencatat pesananku. Tak lama secangkir cappuccino datang, minuman kesukaanku yang akan selalu aku pesan di kedai kopi manapun.


Di luar hujan turun semakin deras, seperti sebuah kesengajaan untuk membuatku berlama-lama di tempat ini. Akhirnya aku mengeluarkan sketchbook dan mulai menggambar acak untuk membunuh waktu. Kuperhatikan sekitar hingga ada satu titik yang membuatku ingin menggambarnya. Dia berada di sudut seberang sana, seorang pria memakai kaus hitam dan wajahnya cukup tampan, namun sorot matanya menyiratkan sebuah luka. Ia membaca buku kumpulan puisi dan beberapa lembar kertas teracak di atas mejanya. Dua gelas kopi yang sudah kosong. Sepertinya ia sudah lama berada disini. Pemandangan yang cukup menarik untuk kurekam dalam bukuku.


Hujan di musim seperti ini tidak bisa diprediksi kapan akan berhenti dan kapan datangnya. Semuanya selalu tiba-tiba. Jalanan mulai tergenang dan entah kapan akan berhenti. Harusnya aku sudah di rumah namun hujan menjebakku disini. Sepertinya orang-orang disini pun sama terjebaknya denganku. Mereka mulai bosan dengan rutinitas yang dilakukan dan mulai berhenti memesan karena sudah tidak tahu apa lagi yang akan dipesan. Satu hal yang bisa mengalihkanku adalah sosok pria di sudut sana. Ia seperti tidak terganggu dengan hujan yang semakin deras dan sepertinya ia juga tidak merasa terjebak layaknya orang-orang di dalam kedai kopi ini. Ia terhanyut dengan pikirannya sendiri. Mungkin terhanyut dengan luka yang ia rasakan, karena meski tangan dan matanya mengarah ke buku yang ia pegang tetapi tatapannya berada di dunia yang lain.


Hujan membuatku menggambar pria itu hingga dua lembar dalam sketchbookku. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarik untuk diperhatikan. Diamnya membuatku ingin melukiskan semua luka yang ada di matanya. Namun aku cukup sadar untuk tidak menghampirinya jika kulakukan mungkin ia akan berpikir aku seorang penguntit.


Seorang pelayan mendatangi mejaku, mengabil piring dan gelas yang sudah kosong dan menanyakan apaka aku akan memesan lagi. Tanpa sengaja ia melirik sketchbookku.


"Maaf sebelumnya, aku tidak sengaja melihat bukumu, apakah pria yang kau gambar adalah pria yang duduk di sudut sana?"


Sedikit terkejut dan kujawab "ya".


"Apa ada alasan kenapa kamu menggambar pria itu?"


"Sejujurnya aku tidak tahu alasan pastinya tapi ialah yang paling menarik perhatianku di kedai ini, wajahnya cukup tampan namun sorot matanya penuh luka seperti mataku beberapa bulan yang lalu. Mungkin itu yang membuatku ingin menggambarnya. Aku ingin melukiskan luka di matanya."


"Jika kamu tertarik padanya aku bisa mengenalkannya kepadamu. Dia bukan temanku tapi semenjak ia sering datang kesini kami terkadang saling menyapa dan bercerita. Pada dasarnya memang iya dia terluka, dicampakkan kekasihnya setahun yang lalu dan kini hidupnya hampa dan tak tentu arah. Itu yang ia ceritakan kepadaku. Aku tak tega melihatnya terus menerus seperti itu, dan saat kulihat gambarmu kukira kamu bisa menyembuhkan lukanya."


"Oh patah hati, pantas matanya sama sepertiku. Aku bisa mengerti perasaan orang yang dicampakkan karena aku juga pernah mengalami itu."


"Nah suatu kebetulan kan karena sama-sama mengalami patah hati mungkin kamu bisa menghiburnya, menjadi warna baru untuk hidupnya."


"Entahlah, karena lukaku juga belum sepenuhnya sembuh, tapi mungkin akan kucoba."


"Nah apa salahnya kan saling menyembuhkan luka. Kata orang patah hati itu harus disembuhkan dengan jatuh cinta. Baiklah jika sudah siap bilang saja padaku kapan ingin dikenalkan kepadanya."


Aku hanya tersenyum dan pelayan itu pun berlalu. Sekilas ia cerita alasannya patah hati dan itu cukup membuatku bersimpati padanya. Namun aku sendiri pun belum yakin apakah aku sanggup untuk mengenal cinta yang baru. Satu yang pasti saat aku siap mengenalnya aku tahu dimana harus mencari dia.


Hujan pun reda kutinggalkan kedai kopi ini dan bertekad jika tiba saatnya aku akan kembali menyapa pria itu.

 
 
 

Comments


Join our mailing list

Never miss an update

  • White Instagram Icon

© 2023 by Fashion Diva. Proudly created with Wix.com

bottom of page