Kedai Kopi Part 2
- antika.rns

- Nov 18, 2020
- 1 min read
Sebulan kemudian aku sengaja datang ke kedai kopi tempatku berteduh saat terjebak hujan. Entah mengapa aku rindu tempat itu dan bahkan aku mulai rindu dengan sosok lelaki yang berdiam di meja pojok kedai kopi itu.
Saat aku masuk tak sulit untuk menemukannya duduk di kursinya seorang diri persis seperti sebulan yang lalu. Laptop di hadapannya, buku berhalaman kosong yang terbuka, tergeletak sebuah pulpen yang tidak ditutup, secangkir minuman dingin yang sudah mulai habis, dan dirinya yang sedang melirik ke arah jendela sambil menerawang.
Seorang pelayan lelaki datang menghampiriku dan tersenyum sambil berkata, "Sudah siap untuk mengenalnya?"
Aku menjawab dengan anggukan dan ia pun tersenyum sambil mengarahkanku untuk duduk di bangku sebelah lelaki itu.
Ia sempat melirik sekilas padaku dan aku tersenyum padanya. Tak kusangka ia pun membalas senyumanku.
Pesanan datang dan aku pun mulai melukis di sketchbookku. Ia mulai terusik dengan kehadiranku. Sesekali melirik dan melihat lukisanku. Tanpa kusadari ia menghampiriku dan duduk di kursi di depanku.
"Hai." sapanya. Aku balas dengan senyuman dan lanjut melukis lagi. Senyumnya membuat hatiku berdebar dan tak kusangka jika ia akan menghampiriku secepat ini.
"Kamu suka laut ya? Aku tahu dimana laut yang mirip dengan lukisanmu, dan mungkin aku bisa mengajakmu kesana suatu hari nanti."
"Oh ya? Dimana laut itu?"
"Di kampungku di Sulawesi Selatan."
"Wah jauh sekali ya, tapi aku yakin laut disana pasti sangat menakjubkan."
"Galih." bisiknya sambil mengulurkan tangan.
"Sisil." jawabku.
Disinilah awal mula sebuah kisah dimulai.



Comments