Last Christmas
- antika.rns

- Jan 28, 2020
- 1 min read
Salju pertama musim ini pertanda natal sudah dekat. Suasananya sudah terasa sejak akhir bulan November. Pohon natal berhiaskan lampu-lampu di seluruh pusat perbelanjaan. Dekorasi natal yang mulai dijual dimana-mana. Baju-baju berbahan tebal dengan nuansa merah dan hijau. Anak-anak yang menulis kado impiannya kepada sinterklas. Para orang tua yang mulai membeli kado untuk rekan dan saudara. Pasangan baru yang menghias pohon natal pertama mereka di halaman rumahnya yang mungil. Semuanya terasa seperti menggali kenangan bertahun silam bagiku.
Tahun ini tak ada lagi alasan bagiku untuk ikut merayakan natal atau mengucapkan selamat. Setelah bertahun-tahun aku berada di tengah-tengah perayaannya, kali ini tidak ada lagi. Tidak ada hiasan natal, tidak perlu lagi menyiapkan kado natal. Tidak ada lagi undangan makan malam sebelum natal. Tidak ada lagi menunggunya seusai misa pagi di hari natal. Semuanya sudah tidak ada.
Kami kembali ke kehidupan masing-masing, dimana ia menemukan teman natalnya yang baru. Aku tidak perlu lagi merasa terbebani akan larangan untuk merayakan natal. Satu-satunya alasanku merayakan natal bertahun-tahun silam karena aku menghargainya, menghargai keluarganya, dan menghargai dirinya yang berbeda denganku.
Kini semuanya tinggal kenangan. Kemana pun aku melangkah selama bulan Desember ini cukup berat bagiku. Karena semuanya mengingatkan akan dia yang sudah lama kukubur dalam peti masa laluku.
Perlahan seiring waktu natal tidak lagi membuat luka ini menganga. Semua kembali seperti biasa dan Desember menjadi bulan kesukaanku lagi tanpa ada kesedihan di dalamnya.



Comments