Let It Die
- antika.rns

- Jul 16, 2019
- 2 min read
Seorang wanita berjalan sendiri di trotoar jalan malam itu. Ia terus berjalan tak tentu arah tujuan. Tatapannya kosong, namun ia masih sadar. Banyak orang memperhatikannya dan beranggapan bahwa ia orang gila. Ya memang bisa dibilang ia setengah gila.
Ia begitu karena ia ingin melupakan masa lalunya. Hal yang ia sukai adalah berpetualang dan berjalan. Dengan begitu pikirannya bisa kosong dari masalah dan ia merasa sedikit membaik. Hampir setiap malam ia akan menyusuri jalan demi jalan. Ada kesenangan tersendiri yang ia rasakan saat berjalan di malam hari.
Ia ingin mengenal seseorang baru yang bisa menyembuhkan lukanya. Namun ia tak ingin masa lalunya diungkit begitu dalam. Ia ingin melupakannya dan memulai dengan yang baru, bukan berbagi kepahitan lalu dengan yang baru.
Ia terus berjalan dan menerawang, jalanan kota mulai sepi namun ia belum ada kemauan untuk pulang. Sedikit letih akhirnya ia duduk di bangku pinggir jalan. Ia memandangi lalu lalang kendaraan. Mencerna sekelebat lampu dari gedung-gedung tinggi. Sesaat ia melihat ke langit, hitam tanpa ada bulan atau bintang yang hadir. Ia sedih karena hal yang ia sukai tidak nampak di langit.
Sambil terdiam ia berharap akan bertemu seseorang yang katanya bisa menyembuhkan lukanya. Saat ia memalingkan wajah ia melihat sosok harapannya. Lelaki itu tersenyum dan setengah berlari menghampirinya di bangku. Ternyata lelaki itu selama 3 jam ini mencarinya ke seluruh sudut kota, hingga akhirnya ia menemukan wanitanya terduduk di bangku ini.
Belumlah harapannya itu terkabul, entah darimana datangnya sebuah mobil yang hilang kendali melaju dengan kencang dan mengarah ke tempat wanita itu terduduk.
Ia tertabrak dan melayang terpental dan terjatuh tepat di hadapan lelakinya. Kepalanya terhantam cukup keras hingga darah mengalir deras, mata dan hidungnya pun mengeluarkan darah, napasnya tersengal dan ia masih sadar. Mobil yang menabraknya sudah tak berbentuk dan orang di dalamnya pun entah masih bernyawa atau tidak. Orang-orang mulai berkerumun untuk menolong.
Wanita itu melirik ke arah lelakinya yang kini berusaha membawanya ke rumah sakit. Panik dan tak tahu harus berbuat apa, wanitanya menahan ia untuk membawanya, di sela nafasnya yang tersengal wanita itu berkata, "Lupakan masa laluku jangan pernah kau tanyakan lagi, aku ingin memulai yang baru denganmu tanpa sisa pahit yang lalu."
Tak lama matanya pun terpejam, nafasnya berhenti dan harapannya pun tak terkabul. Di sisinya si lelaki menyesali apa yang telah ia perbuat pada wanitanya. Ia menyesal selalu bertanya akan masa lalu pahit wanitanya yang sebenernya sangat ingin ia lupakan. Ia menyesal jika saja beberapa jam sebelumnya ia tak meninggalkannya sendirian di jalan itu. Ia menyesali semuanya karena kini wanitanya tak akan pernah kembali kepadanya.



Comments