Nyanyian Debur Ombak
- antika.rns

- Mar 10, 2019
- 2 min read
Updated: Jun 25, 2019
Kuharap malam ini akan cerah karena cukup hatiku saja yang kelabu. Aku sengaja mengasingkan diri ke ujung lain pulau ini. Tempat dimana tadinya kuberharap akan datang bersamamu, namun nyatanya aku datang bukan denganmu melainkan dengan lukamu. Sedikit terlambat memang aku pergi hingga akhirnya aku tiba disambut kegelapan. Tempat ini memang tempat wisata namun karena bukan musimnya hanya beberapa manusia yang tampak disini, termasuk diriku dan orang-orang yang berjualan hingga larut malam. Oh ya lupa kusebutkan aku mengasingkan diriku ke sebuah pantai, dimana kota ini selalu dirindukan oleh orang-orang yang singgah. Selain karena kotanya yang selalu membuat rindu alasan mengapa aku datang kesini karena setengah darah dari kota ini mengalir di darahku juga, rasanya seperti kembali ke rumah. Sedari kecil aku memang lebih menyukai suasana laut daripada pegunungan walaupun aku tak bisa berenang. Perasaan teduh saat melihat kejauhan tanpa batas dan birunya lautan serta kepingan kerang yang teronggok di pinggir pantai memang hal yang sangat kusukai. Terkadang aku selalu lupa diri jika sudah memunguti kerang.
Aku tiba dan segera memilih posisi yang nyaman untuk berdiam menatap luasnya cakrawala dan lautan yang menghitam di hadapanku. Beruntung doaku terkabulkan seolah semesta mendukungku untuk terpulihkan dari segala yang telah terjadi. Langit cerah dengan hamparan bintang dan bulan di kejauhan. Cahayanya tercermin di hamparan air membuat pola ombak seolah berwarna keemasan. Di kejauhan sesekali terlihat cahaya kapal yang melintasi Samudera Hindia. Debur ombak yang berima seolah membersihkan segala pikiran buruk dalam diriku yang membuatku terasa suci kembali.
Mungkin karena sudah terlalu lama aku terdiam, seorang penjual disana menghampiriku dan mengajak berbincang sejenak lalu kemudian dia menawariku minuman hangat dan sedikit cemilan. Setelah mengantarkan pesanan ia pun meninggalkanku. Kembali kumenatap keindahan di hadapanku. Beberapa pemuda disekitarku mulai bernyanyi sebuah lagu yang membuatku terhanyut dalam kenanganmu. Malam ini tak akan kubiarkan rasa biru terus menggelayutiku, biarlah semuanya luruh bersama buih ombak yang kembali ke tengah lautan. Aku menyeruput minumanku yang mulai dingin dan teringat akan rasamu malam itu.
Tak terasa sudah hampir lewat tengah malam dan aku masih disini, para pemuda yang tadi mulai menyalakan api unggun. Rupanya mereka sedang berkemah di pinggir pantai. Tanpa sadar aku mulai membakar rokok untuk menghilangkan kabut dalam diriku. Setiap hembusannya seperti mengeluarkan racunmu. Namun tetap saja aku tak mau semua racun itu hilang, akan kusisakan sedikit agar kau tak sirna dari sana.
Aku mulai bingung apa yang harus kulakukan disini, akhirnya aku mendengarkan lagumu dan berbaring di atas pasir. Kulihat ke atas hamparan bintang yang indah, suara debur ombak, dan alunan gitarmu yang menenangkan semuanya membuatku terlelap sejenak. Dalam lelapku, ku bermimpi bertemu denganmu dan dengan nyata kurasakan sapuan tanganmu di rambutku. Tanganmu terasa begitu nyata hingga membuatku terjaga. Saat ku membuka mataku dan disanalah kau memandangku, nampak nyata tersenyum padaku dengan topi khasmu yang selalu kau kenakan kemanapun kau pergi. Senyum manismu, rambut panjangmu, kaus abumu, aroma tubuhmu, dan lembut tanganmu yang selalu kusukai semuanya nyata di hadapanku.
“Hai.....”



Comments