top of page

Paling Bisa

  • Writer: antika.rns
    antika.rns
  • Dec 1, 2019
  • 5 min read

Pertemuanku dengannya memanglah tidak terlalu lama. Bisa dibilang baru beberapa bulan aku mengenalnya, dari sebuah perkenalan yang tidak disengaja. Aku memujinya karena karya yang ia hasilkan. Entah sejak kapan aku terkagum padanya. Awalnya aku hanya terkagum pada karyanya, namun semakin kulihat ternyata aku pun terkagum pada pesonanya.


Tak terpikir olehku untuk bisa dekat dan mengenalnya, bahkan berharap pun tidak. Menyaksikan karyanya saja sudah cukup bagiku. Campur tangan semesta memang siapa yang tahu, tanpa kusadari kami semakin dekat dan disaat yang telah ditentukan akhirnya kami bertemu.


Hari itu aku memaksimalkan diriku untuk tampil cantik, bahkan aku sampai membeli make up baru khusus untuk bertemu dengannya. Rasa senang dan tegang bercampur menjadi satu. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, dan melamun cukup lama di depan lemari pakaianku. Apa yang harus kukenakan? Jika memakai dress mungkin terlalu berlebihan, jika hanya memakai kaus biasa kesannya tidak menarik. Hampir satu jam, setengah isi lemari sudah menumpuk di atas kasur dan aku belum menemukan baju yang sesuai dengan keinginanku.


Akhirnya aku memilih atasan dengan potongan leher rendah berwarna biru muda dan celana panjang. Aku memulas make up di wajahku senatural mungkin dan memilih memakai lipstik bernuansa nude rose, tak lupa juga aku memakai parfum kesukaanku agar lebih menarik. Kami janji untuk bertemu pukul 4 di sekitar Jakarta Selatan. Pukul 3 aku bersiap untuk berangkat, aku tidak ingin menjadi yang pertama tiba namun aku pun tak ingin jika harus membuatnya menunggu terlalu lama.


Di sebuah cafe yang menyajikan sajian khusus cokelat akhirnya kami bertemu. Dia memilih tempat itu karena suasananya yang santai dan tak terlalu ramai sedangkan aku memilih tempat itu karena aku sangat menyukai cokelat. Beruntung bukan aku yang sampai duluan sehingga aku tak perlu menunggu. Senyuman manisnya menyambut langkahku hingga ku terduduk di hadapannya.


“Hai akhirnya kita ketemu ya.” sapanya.


“Iya.” jawabku sambil tersenyum. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, semua yang sudah kupikirkan akan kutanyakan padanya hilang dalam sekejap dan lidahku kelu tak bisa bicara. Astaga pesonamu sungguh membuatku berubah menjadi patung.


“Kamu lucu ya.”


Aku hanya tersipu mendengar perkataannya dan mengingatkan diriku untuk tidak terlarut dalam buaiannya. Namun aku tak bisa mengedalikan diriku setiap ku melihat wajahnya. Tak terasa petang berlalu hingga berubah menjadi kelam. Ia bersikeras untuk mengantarku pulang tapi aku menolak. Aku tak tega harus menyuruhnya mengantar ke rumahku sedangkan rumahnya saja berbalik arah. Ia pun mengalah dan aku pulang sendiri, ia berkata aku harus mengabarinya saat sudah tiba di rumah dan jika terjadi sesuatu di perjalanan jangan ragu untuk menelponnya.


Setiba di rumah aku langsung menghubunginya dan kami pun kembali mengobrol melalui telepon hingga tak terasa terang menjelang. Semakin hari kami semakin dekat. Kami sudah berani berbagi banyak hal layaknya teman lama. Aku mencoba memperingati diriku untuk tidak terlarut pada dirinya, namun rasa memang tak bisa ditahan sekalipun oleh diri sendiri.


Hampir setiap dua minggu sekali kami bertemu, kadang kami ke cafe, kadang kami pergi ke pameran seni ataupun melihatnya berkarya. Ia memang lelaki yang jujur walau terkadang sedikit liar, namun ternyata ada satu hal yang tak ia nyatakan padaku hingga akhirnya aku mengetahuinya sendiri tanpa disengaja.


Entah mengapa suasana hatinya saat itu sangat sendu. Tak biasanya pertemuan kami ditemani oleh kebiruan dan kesunyian. Aku tak tahu ada apa dengannya sampai aku memberanikan diri untuk bertanya. Segala kesedihan dan keresahannya tertumpah malam itu sampai aku benar-benar tak tahu harus berkata apa dan tak tahu apa yang aku rasakan. Yaaa malam itu bukan hanya hatinya saja yang hancur tetapi hatiku pun ikut terpecah. Betapa tidak setelah sekian lama kami sering menghabiskan waktu bersama, malam-malam yang menggila bersama hingga aku terjatuh dalam buaiannya ternyata ada satu wanita yang tak bisa hilang dalam hatinya.


Ia bersedih karena wanita itu tak mau menerimanya sebagai kekasih, entah apa alasannya aku tak tahu, yang terlihat dia sangat terpukul akan penolakan itu. Baru kali ini kulihat dirinya begitu terpuruk. Andai aku bisa berteriak aku pun ingin berkata bahwa aku pun hancur jika nyatanya aku tak pernah tersinggah di hatimu, jadi selama ini apa yang telah kita lakukan? Namun aku masih punya nurani aku tak berani mengganggumu malam itu, biarlah malam itu aku menjadi pendengarmu saja dan kau menumpahkan segala sedihmu.


Ya aku akui memang wanita itu lebih cantik dariku, lebih berbakat seni, dan pandai melukis. Dunianya dan duniamu memang sama, dunia seni, dan aku yang bukan apa-apa merasa tersisih.


Seminggu berlalu wajahmu mulai berseri kembali walaupun masih bisa kulihat raut biru di wajahmu. Tak apa walau tak ada aku di dalam dirinya, masih berada di sampingnya saja aku sudah senang. Sekali lagi aku memaki diri ini mengapa harus terjatuh begitu dalam pada pesonanya. Aku ingin pergi namun ia selalu datang. Tak tahukah dia bahwa kedatangannya selalu membuat pertahananku hancur? Tak merasakah dia bahwa selama ini akulah yang mengembalikan kepingan hatinya hingga ia bisa tersenyum kembali? Ah iya baru kuingat dia kan manusia tak kasat rasa, mana mungkin ia akan merasakan warnaku.


Seiring kepingan hatinya kembali utuh kini hatikulah yang tak bisa utuh. Aku tak bisa terus menerus terjebak dalam dunianya. Kuputuskan untuk lari dari dunianya. Hampir 2 minggu aku tak menjawab pesannya dan menolak menemuinya saat ia datang ke rumahku.

Sore itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sebuah mall. Tanpa kuduga ternyata ada dia disana sedang menampilkan karyanya. Aku berusaha untuk menjauh namun terlambat ia sudah melihatku dan sedang berlari kecil ke arahku. Aku tak bisa mengelaknya dan kini ia di hadapanku. Ia mengajakku ke sebuah tempat minum dan kami berbincang disana.


“Kenapa kamu menghilang dariku?” tanyanya. Aku terdiam namun akhirnya aku memberanikan diri untuk jujur saja padanya.


“Iya aku memang menghilang darimu, aku tak tahan berada di dekatmu dan harus melihatmu terus menerus mengejarnya yang sudah jelas tak mau padamu! Apa matamu tertutup asap sampai kau tak bisa melihat ada aku yang selalu hadir di setiap senang dan sedihmu? Apa kamu tak sadar kalau dia tak pernah sekalipun melihatmu? Apa kamu tak tahu aku selalu berusaha menjadi “si paling bisa” dalam segala hal di hidupmu semenjak pertemuan kita? Apa setiap pertemuan, setiap kata, setiap sentuhan dan rayuan manismu itu tidak berarti apa-apa bagimu? Apa malam-malam kita tak berarti?”


“.......”


Amarahku meluap saat itu dan aku tahu kemungkinan terbesar aku akan kehilangan dia, aku takut jika harus kehilangan dirinya malam itu namun aku pun tak mau hanya menjadi kabut dirinya. Aku ingin nyata tak ingin hanya menjadi kabut. Kutinggalkan dirinya di tempat itu. Aku melangkah keluar dengan mata basah. Aku tak ingat lagi akan kejadian setelah itu saat ia meneriaki namaku, aku terus melangkah dan menjauh darinya.


Saat semua sudah mereda sebulan kemudian, aku menyanggupi permintaannya untuk bertemu denganku. Tidak seperti pertemuan pertama kami, hari itu aku memilih untuk tidak memakai make up apa pun dan memakai baju yang biasa saja. Aku membentengi dan membekali diriku dengan keyakinan penuh agar tak hanyut lagi pada pesonanya. Namun saat aku melangkah masuk ke tempat pertemuan kami semua pertahananku hancur saat melihatnya. Kadang aku bertanya apa sih yang terpancar dari dirinya hingga aku tak bisa menahan diri pada pesonanya. Rambutnya bertambah panjang menambah pesona dirinya, dan tangan itu, tangan dan jemari yang sangat aku sukai sudah lama ku tak melihatnya dan aku rindu sentuhannya dan malam-malam gila kami.


Malam itu ia mengatakan semua penyesalan yang sudah ia lakukan padaku dan meminta maaf akan kekasatan rasanya padaku. Ia mengakui bahwa selama sebulan tanpa hadirku hatinya hancur sama seperti saat wanita itu menolaknya.


“Kumohon berikan aku kesempatan untuk menebus dosaku di waktu lalu. Izinkan aku menjadi “si paling bisa” dalam hidupmu sama seperti yang telah kau lakukan padaku.”


Aku tak mengiyakan tapi juga tak menolak perkataannya. Aku hanya mampu mencumbu bibirnya sebagai jawaban atas perkataannya.

Terinspirasi dari lagu Sisitipsi - Paling Bisa

 
 
 

Comments


Join our mailing list

Never miss an update

  • White Instagram Icon

© 2023 by Fashion Diva. Proudly created with Wix.com

bottom of page