Plastic Love
- antika.rns

- Jun 16, 2019
- 1 min read
Gemerlap lampu kota malam ini temaniku. Kususuri jalanan disaat kehidupan malam di kota ini dimulai. Mereka bilang aku membutuhkan hiburan. Katanya aku terlalu larut dalam patah hati ini. Nyatanya aku tak merasa begitu. Mereka bilang untuk mencoba plastic love. Untuk membungkam mereka kuputuskan untuk keluar malam ini dan membuktikannya.
Jalanan malam disini sudah seperti di Tokyo pada malam hari. Banyak sekali hiburan yang bisa kau pilih sesuka hatimu. Atau kau juga bisa menyepi di tepian taman yang nyatanya tidak terlalu sepi.
Kuputuskan untuk berjalan menyusuri trotoar sepanjang hiburan malam. Godaan dan panggilan gila tak kuhiaraukan lagi, karena bukan itu yang kucari.
Dalam keremangan ini kukagumi cahaya lampu yang berasal dari gedung tinggi hingga tak sadar aku terjatuh karena menabrak entah ditabrak oleh seseorang.
Parasnya cukup menarik untuk dilihat, hingga ku terhisap akan rupanya. Ia membantuku berdiri dan menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Sebagai permintaan maaf ia menawarkan dirinya untuk menemaniku. Kami saling bertukar cerita dan ia mengajakku ke sebuah tempat di ujung jalan itu.
Ia juga menawariku minuman katanya untuk merayakan keberanianku mengunjungi hiburan malam sendirian.
Entah ia sadar atau tidak rasanya aku sedikit tertarik kepadanya, namun aku tak ingin memiliki hubungan dengannya. Terlintas akan gagasan plastic love yang temanku katakan.
Sekilas karena pengaruh minuman yang kutenggak, aku memberanikan diri menariknya ke tengah lantai dansa. “We dance under the disco ball” kami berdansa mengikuti alunan lagu itu dan tanpa sadar ia pun ikut terhanyut dengan suasana ini.
Ia berbisik, “Maukah kau mewujudkan rencanamu malam ini?” Aku yang sudah amat mabuk hanya menjawabnya dengan senyuman terindah yang tak pernah kuperlihatkan pada orang lain sebelumnya.
“I’m just playing games
I know that’s plastic love
Dance to the plastic beat
Another morning comes”
(Mariya Takeuchi - Plastic Love)



Comments