Satu Malam Di Selatan Jakarta
- antika.rns

- Nov 30, 2019
- 2 min read
Sore itu dikala sedang tak menentu, tiba-tiba sebuah pesan masuk. Kulihat siapa pengirimnya. Oh dia lagi. Seperti biasa ia menanyakan keberadaanku. Entah terhasut apa atau karena perasaan yang tidak menentu karena seseorang, sore itu kuiyakan ajakannya. Dia cukup senang mendengar jawabanku dan benar-benar menantikan kehadiranku.
Tepat jam 6 sore, aku menuju tempatnya. Ia tak henti menanyaiku sudah sampai dimana. 7 bulan kami tak bertemu dan aku hampir melupakan dirinya. Gerimis turun perlahan seakan menahanku untuk tidak bertemu dengannya. Namun tak kupedulikan.
Setibanya disana ia menyambutku dengan riang, masih sama seperti 7 bulan lalu. Senyumnya dan kebaikannya perlahan meluluhkanku lagi. Namun ku harus sadar saat ini, aku tak ingin terjebak dengan jurang yang sama seperti 7 bulan lalu. Aku tak berjanji bahwa ini pertemuan terakhir kami, namun aku janji tak akan memiliki rasa lagi padanya.
Ia menanyai kabarku dan bagaimana aku bisa sampai seperti sekarang. Dengannya aku tak merasa canggung untuk berbincang tentang segala hal, bahkan hal yang tak lazim sekalipun. Sosoknya kini bagai kakak laki-laki bagiku.
Banyak hal yang kuceritakan padanya malam itu dan banyak hal yang ia ajarkan padaku tentang baik dan buruk. Sungguh tak terlintas sedikitpun olehku untuk bisa bertemu lagi dengannya.
Malam itu hampir ku terlena akan senyumnya, namun memang pesonanya tak bisa kutahan, kubiarkan diriku terlena olehnya sesaat. Cepat aku tersadar agar perasaan itu tak terulang lagi. Nampaknya ia sedikit kecewa namun ia menghargai keputusanku untuk tidak jatuh lagi padanya.
Malam kami berakhir dengan bunyi ponselnya yang mengharuskan dia pergi ke suatu tempat. Kulihat jam dan memang ini sudah cukup malam dan sudah waktunya untukku pulang.
Perpisahan kami kali ini tak meninggalkan beribu pertanyaan seperti 7 bulan yang lalu. Semua pertanyaan dan keresehan sudah terjawab malam ini. Semua luka dan rasa yang pernah singgah sudah benar-benar hilang dan kini aku bisa berdamai dengannya sebagai teman cerita terbaikku.
Suatu tempat di Selatan Jakarta, 2019



Comments