Searching My Soul
- antika.rns

- Feb 8, 2020
- 3 min read
Updated: Nov 18, 2020
Jakarta adalah pelarian,
Jakarta adalah melupakan,
Jakarta adalah dendam,
Jakarta adalah rumah kedua,
Jakarta adalah kesendirian,
Jakarta adalah ketenangan,
Dan kini Jakarta adalah kamu.
Aku adalah seorang wanita setengah dewasa. Tidak banyak tuntutan untuk hidupku sendiri, rencana masa depan pun tak ada. Aku punya mimpi yang nyatanya diremehkan oleh orang yang saat itu paling dekat denganku. Dia yang memupus mimpiku dan mengubahku untuk mengejar Jakarta. Pada awalnya tak ada niat untuk memilih Jakarta, dan memang aku tak ingin keluar dari kotaku. Semua berubah saat rasa sakit, dendam, diremehkan, terkhianati sudah tertanam bertahun-tahun di dalam diriku. Tak peduli lagi pada semua yang akan kutinggalkan. Kini yang kupikirkan adalah bahagiaku dan memulai kenangan baru di kota lain, dan Tuhan berkata Jakartalah jawabannya.
Cukup lama penantian untuk bisa pindah kesana. 3 bulan adalah jawaban yang diberikan Tuhan atas doaku. Semua berkata untuk apa pindah kesana? Disini pun bisa hidup lebih baik. Disana tidak aman katanya. Banyak hal buruk yang bisa mempengaruhimu. Siapa yang akan menjagamu disana?
Bimbang namun aku memilih untuk bahagiaku dan memulihkan dendam serta sakit hati. Aku ingin keluar dari masa lalu dan memulai yang baru di Jakarta.
Permulaan tak ada yang terasa berat untuk tinggal sendiri di tempat yang asing. Banyak hal baru yang kucoba dan semakin hari semuanya membaik untuk jiwaku. Kesibukan dan rutinitas memang membuatku mudah bosan, tapi Jakarta punya magisnya untukku tidak menyerah meninggalkan kotanya.
Di sela semuanya Jakarta mengajarkanku tentang kehidupan, untuk lebih menghargai waktu, memprioritaskan sesuatu yang kau butuhkan dibanding yang kau inginkan. Meredam emosi dan menjadi pribadi yang lebih sabar. Belajar menghadapi berbagai macam jenis manusia di tempat umum. Hidup lebih mandiri dalam segala hal. Mengajarkanku untuk lebih banyak tersenyum.
Baik dan buruknya pernah aku alami disini, dimana dengan mudahnya aku terbujuk melakukan hal di luar aturan.
Dan Jakarta juga yang membuatku bertemu dengan seseorang yang bisa membawaku melihat dunia dari sisinya. Banyak hal buruk yang sebelumnya sudah aku tahu tapi tak pernah sedekat itu terjadi di hidupku. Bahwa apa yang dia pilih adalah sebuah sebab akibat dari suatu hal. Aku tak menyalahkannya memilih jalan berbeda dan aku tidak menyesal atau takut untuk mengenalnya. Dia bagiku seperti cahaya penuntun arah menuju kepastian.
Jika harus disuruh memberi alasan mengapa aku bisa memilih dia aku sendiri pun tak tahu alasannya. Aku adalah seorang wanita yang membuat keputusan melalui intuisi. Mungkin untuk beberapa orang hal seperti ini tidaklah logis, namun inilah yang aku yakini dan intuisiku tidak pernah salah. Sejak pertama bertemu dengannya intuisiku mengatakan jauh di dalam dirinya ada kebaikan yang bisa menuntunku. Terkadang aku melihat cerminan diriku pada dirinya dalam beberapa hal. Seorang yang bisa membuatku nyaman hanya dalam sekejap, suatu hal yang sulit terjadi pada diriku, yang bisa perlahan meruntuhkan sikap ketidakpedulianku pada sekitar, dan mampu membuatku berusaha untuk bisa menjadi lebih baik lagi . Dari sanalah aku tahu bahwa dialah jawaban setiap doaku pada Tuhan.
Aku adalah wanita yang tidak terlalu memikirkan masa depan. Apapun yang terjadi biarlah terjadi sesuai kehendak Tuhan dan aku akan mengikuti ceritanya. Sejak bertemu dengannya aku mempelajari banyak hal bahwa hidup tidak bisa selamanya begini, tidak memiliki kepastian. Dengan sejuta pertimbangan pada awalnya aku pun tak yakin apakah keputusan ini benar atau salah. Pilihan yang akan mengubah sepenuhnya masa depanku. Suatu waktu pernah datang keraguan apakah aku sanggup bersamanya? Jawabannya selalu kembali kepadanya. Mungkin memang ada benang merah tak kasat mata yang selalu membuatku mengarah padanya kembali. Perkataannya dan sikapnya bisa menyadarkanku tentang hidup dan membuatku percaya bahwa membuat sebuah komitmen tidaklah semenakutkan itu. Hingga intuisiku meyakinkanku untuk bersamanya.
Terima kasih atas kebaikanmu yang perlahan bisa meruntuhkan dinding es pada diriku. Terima kasih karena telah menunjukkan rasa sayang dan nyaman yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan.
Terima kasih telah menyembuhkan kekecewaan dan ketakutanku pada lelaki.
I found the love of my life
I found it in the mysterious way
I really thanks to God he came to my life when i'm giving up on love
Jakarta adalah keajaiban,
Aku dan Jakarta menulis kisah baru.



Comments