top of page

Surat

  • Writer: antika.rns
    antika.rns
  • Aug 18, 2019
  • 3 min read

Updated: Aug 18, 2019

Setiba di rumah aku dikejutkan oleh sepucuk surat yang dikirim tidak melalui jasa pengiriman surat. Sekilas aku lihat ini seperti surat pribadi yang diantarkan oleh seseorang langsung ke pintu rumahku. Surat itu dimasukkan ke dalam amplop berwarna biru langit, warna kesukaanku setelah warna hitam. Disana hanya tertulis "Untukmu" tanpa ada nama pengirim maupun alamat pengirim dan penerima. Semakin yakin bahwa mungkin dialah yang mengantarkan surat ini langsung ke rumahku.


Kubawa surat itu dan masuk ke dalam rumah. Aku tahu ini pasti dari dia namun aku tak tahu apalagi yang ingin dia ungkapkan. Aku tidak bergegas membacanya, kutaruh di meja dahulu. Aku lebih memilih membersihkan diri dulu baru membacanya.


Hampir aku melupakan surat itu, saat akan masuk ke kamarku aku melihatnya tergeletak di atas meja, kuambil dan kuputuskan untuk membacanya.


"Hallo dirimu, apa kabar? Mungkin ini seperti pembuka yang basi menanyakan kabarmu yang kutahu kamu baik-baik saja dan bahkan bahagia tanpaku. Ya aku akui masih belum bisa melupakanmu, aku tak tahu apakah kamu juga merasakannya walau hanya sedikit. Aku juga tahu kini sudah ada "dia" disampingmu. Selamat.


Terakhir kali kita berkomunikasi tidak berjalan baik, aku yang belum bisa menerima kenyataan bahwa kamu telah pergi tidak seharusnya marah sebesar itu padamu. Saat itu memang sudah seharusnya kamu menemukan penjagamu yang baru, yang mungkin lebih baik dari aku. Tetap saja aku tidak rela saat itu dan sangat terkejut karena kamu bisa berpaling secepat itu. Aku sadar saat itu aku bukanlah siapa-siapa lagi.


Semuanya selalu menghantui hingga aku memberanikan diri menulis surat ini. Aku mencoba untuk membencimu agar terlupa akan semua hal tentangmu namun yang kudapati setiap harinya hanyalah bayang-bayangmu, kebiasaanmu, lagu kesukaanmu yang entah kenapa bisa terdengar dimana-mana.


Mungkin itu hukuman untukku karena telah membuatmu terluka. Kini mungkin harus kukatakan maafkan aku karena telah salah menilaimu saat itu. Kudengar dari temanku yang pernah bertanya padamu, ia bilang kamu bukannya melupakan semua tentang kita, tapi itu semua karena kamu bisa menerima kenyataan bahwa tidak ada jalan lain untuk kita selain berpisah. Dan hebatnya kamu bisa menerima itu dengan baik hingga kamu bisa dengan mudahnya melanjutkan hidupmu dan menemukan "aku" yang baru.


Aku sangat bangga padamu pada akhirnya karena kamu lebih dewasa dan bisa berpikir realistis dibandingkan aku yang masih saja terpaku akan dirimu hingga saat ini. Ya maafkan aku hingga detik menulis surat ini aku masih tidak bisa menghapusmu.


Kini aku hanya bisa mendoakan segala hal yang terbaik untukmu dan dirinya. Kudengar dari temanku, ia bilang bahwa "sosoknya" yang kini menemani hari-harimu adalah seorang yang benar-benar kamu impikan sejak dulu. Dia seorang seniman. Ya kau selalu bilang bahwa kau amat menyukai seorang seniman dan aku tahu kamu sangat menyukai dan menghargai seni apapun bentuknya. Apalah dayaku ini yang tak tahu apa-apa tentang seni dan hanya bisa mencibirmu akan hal yang paling kamu sukai. Maaf, aku tidak pernah bisa mengerti membahas seni denganmu saat itu. Kudengar dengan dia kamu bisa membahasnya dengan amat baik. Apa yang kau sukai selalu dihargai olehnya, apa yang kau kenakan, apa yang kau lakukan ia bisa lebih menghargaimu dibandingkan aku dahulu. Maaf.


Ya mungkin karena aku tak meminta maaf padamu hidupku tidak tenang dan selalu terbayang olehmu, atau memang aku yang belum bisa menerima kenyataan hingga saat ini. Kudoakan yang terbaik untukmu dan dirinya yang bisa membuatmu bahagia melebihi aku."


Kulihat jam dan kini sudah jam 1 lewat, sial kenapa aku harus membaca surat ini di jam berbahaya seperti ini. Walaupun memang aku sudah tidak ingin bersamanya namun membaca surat ini bisa membuatku mengeluarkan air mata.



 
 
 

Comments


Join our mailing list

Never miss an update

  • White Instagram Icon

© 2023 by Fashion Diva. Proudly created with Wix.com

bottom of page