Treasure of My Life
- antika.rns

- Apr 19, 2019
- 5 min read
Setiap anak pasti akan membanggakan ibunya dengan caranya masing-masing, tak terkecuali diriku. Ia adalah sosok ibu yang hebat dan tak tergantikan dengan apapun. Aku tak tahu sejak kapan aku bisa sedekat itu dengan ibuku. Mungkin karena sewaktu kecil aku sering dirawat di rumah sakit, ibuku menjadi lebih perhatian kepadaku daripada dengan kakakku. Semakin hari kami semakin dekat, dan semua apa yang ia lakukan lama kelamaan menjadi kebiasaan bagiku baik dan buruknya. Kami selalu menghabiskan waktu bersama hingga kini dan ia sangat bergantung padaku dalam segala hal.
Dulu mungkin aku merasa malu jika kemana pun aku pergi mama selalu mengantarku atau bahkan selalu ingin ikut. Namun kini semakin aku beranjak dewasa hal itu tidaklah penting karena bersamanya aku menemukan sosok seorang teman sejati yang sangat mengerti diriku jauh melebihi sahabat terdekatku. Ya bagiku ia bukanlah hanya seorang ibu yang aku hormati seperti kebanyakan hubungan ibu dan anak di luar sana. Ia adalah segalanya, ibu, sahabat, teman hidupku yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun dan siapapun di dunia ini. Darinya aku belajar banyak sekali hal baik dan hal buruk. Mungkin jika kalian mendengarkan percakapan kami, kalian akan berpikir aku anak yang tidak sopan. Kenapa? Karena tidak ada satupun anak yang akan berbincang dengan ibunya dengan panggilan “Lo” dan “Gue”, tapi itu memang sudah menjadi kebiasaan kami sejak lama bahkan ia pun tidak keberatan dengan panggilan itu, bahkan berbicara dengan kata yang sangat kasar pun kami sudah sering, karena itu aku bilang kami bukan hanya sekedar ibu dan anak tetapi jauh melebihi teman hidup atau sahabat yang pernah dimiliki, bahkan ia lebih baik dari sahabat yang kupunya.
Terkadang kami memang berselisih pendapat namun hal itu tak membuat kami saling membenci. Ia selalu menceritakan padaku masa mudanya yang jika kalian tahu akan terkejut, ya termasuk diriku. Ia bercerita bahwa dulu dirinya adalah seorang gadis yang bisa dibilang nakal pada zamannya. Ia memiliki orang tua yang memberikan kebebasan pada anak-anaknya namun tetap bertanggung jawab dan tidak melebihi batas. Hal itulah yang ia ajarkan juga kepadaku. Ia bercerita sewaktu remaja ia selalu berpesta dengan teman-temannya, pesta pada zaman itu tidak sama seperti sekarang. Ia pun bercerita pengalamannya bagaimana ia berkenalan dengan seorang pria di sebuah pesta, pertama kalinya ia merokok, bagaimana saat ia membolos sekolah, dan mencicipi minuman beralkohol. Semua hal baik dan hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya ia ceritakan kepadaku, semua rahasia, cerita tentang cinta pertamanya, bagaimana terkadang ia rindu pada cintanya, bagaimana ia dulu berhubungan dengan orang tuanya yang juga adalah kakek dan nenekku. Banyak hal yang bisa kuambil untuk dijadikan pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. Ya ibuku memang bukanlah seperti kebanyakan ibu lainnya yang ingin terlihat sempurna di mata anak-anaknya, ia menunjukkan dirinya apa adanya kepada kami dan memberikan kebebasan sebesar-besarnya pada kami untuk mencoba hal yang pernah ia alami sewaktu remaja.
Mungkin jika anak-anak yang lain mulai merokok di usia remaja karena pengaruh lingkungan sekitarnya, berbeda dengan diriku yang mencoba rokok untuk pertama kalinya dari sosok ibuku. Gila memang tapi itulah yang membuatku kagum padanya. Ia tidak melarang anak-anaknya selagi hal tersebut tidak di luar batasan normal. Ialah yang mengajariku bagaimana caranya merokok, mengenalkanku pada minuman alkohol, tapi kebebasan yang ia berikan lantas tidak membuatku menjadi anak yang lepas kendali.
Justru karena kebebasan itulah yang membuat aku menjadi dewasa dan memiliki pemikiran tersendiri bahwa mengapa ibuku mengizinkan anaknya mencoba hal yang tabu agar anaknya tidak sembunyi-sembunyi melakukan hal itu dan itu membuatku menjadi tahu batasan dan mendapat kepercayaan dari orang tuaku akan hal yang aku perbuat. Tak pernah sekalipun aku berbohong pada ibuku akan hal-hal tabu yang biasanya anak lain sembunyikan dari ibunya. Terkadang kami berbagi rokok yang sama dan membelinya bersama-sama lalu menghisapnya bersama sambil mengobrol dan minum kopi, bahkan kami pernah minum bir bersama sambil berbagi rahasia-rahasia tabu dan candaan yang di luar batas. Kecintaannya pada make up juga menurun padaku, sehingga kami selalu berbagi make up yang sama.
Hal baik yang juga menurun padaku adalah bagaimana ia mengajariku menjadi orang yang sabar, selalu bersyukur, selalu bisa menerima keadaan apapun dengan ikhlas. Hal buruk yang juga menurun padaku adalah bagaimana ia mengajariku untuk menjadi orang yang bodo amat dengan lingkungan sekitar jika kita tidak menyukainya, ia mengajariku untuk berbuat sesuka hati asalkan tidak merugikan orang lain.
Sewaktu masih sekolah banyak anak lain yang suka membolos karena tidak mau sekolah dan membohongi ibunya. Namun berbeda dengan ibuku, jika aku sedang malas bersekolah ia mengizinkanku untuk membolos dan bahkan ia juga yang memberitahu guruku jika aku tidak masuk. Sungguh baik sekali ibuku ini tidak ada duanya, ada perkataannya yang selalu aku ingat sewaktu aku masih sekolah dulu
“Daripada kamu bohong untuk bolos sekolah lebih baik bilang saja sama mama, karena mama tidak akan melarang kamu untuk bolos jika memang kamu sedang tidak ingin sekolah.” Terkadang saat aku bolos ibuku malah mengajakku keluar untuk sekedar window shopping atau nongkrong di cafe. Kini ia semakin menua, semua hal yang dulunya bisa ia lakukan sendiri semua sekarang bergantung kepadaku. Bahkan untuk mengambil uang di atm saja sekarang jika tidak kudampingi banyak kesalahan yang ia lakukan. Terkadang aku berpikir apa jadinya jika kami berjauhan, aku bahkan tidak sanggup membayangkannya.
Aku selalu menceritakan semua hal kepada ibuku, mulai dari hal penting hingga cerita akan cinta yang pernah kurasakan. Bagaimana aku pernah jatuh hati kepada seorang pria hingga bagaimana sakitnya patah hati. Semua hal yang aku ceritakan tidak pernah sekalipun ia ikut campur terlalu dalam. Ia selalu mendengarkan dengan baik, memberi solusi atau terkadang ia menertawakan kebodohanku.
Kami sama sama menyukai musik. Meskipun musik kami berasal dari zaman yang berbeda, kami selalu berbagi, ia mengenalkanku pada musik-musik di zamannya dan aku mengenalkan musik yang aku dengar sekarang, dan kami akhirnya memiliki kesamaan jenis musik. Menonton konser musik bersama adalah hal yang sudah biasa kami lakukan. Terkadang jika aku menonton konser dengannya banyak pandangan dari orang sekitar yang menatap aneh, namun hal itu tak ku hiraukan. Jujur saja aku lebih nyaman jika pergi kemanapun dengan ibuku daripada dengan temanku bahkan saat menonton konser musik.
Kini aku sudah dewasa ya bisa dibilang tahap awal hidupku sudah dimulai dan akupun memiliki mimpi yang ingin kuraih dimana artinya aku harus melangkah meninggalkan ibuku. Aku tahu ia merasa amat sangat kehilangan jika aku pergi sejenak, namun inilah hidup ia mencoba tegar dan mendukung mimpiku. Jika bisa aku juga akan membawa ibuku kemanapun aku pergi. Tanpanya terasa sekali sepi keseharianku. Aku juga bukanlah orang yang bisa mengucapkan “I love you mom” atau bahkan mengucapkan terima kasihku secara langsung, namun ia tahu bahwa aku sangat menyayanginya dan membutuhkannya melebihi sebuah kata yang bisa diucapkan. Darinya aku belajar mengenal sastra dan akhirnya aku memiliki keberanian untuk mulai menulis. Darinya aku belajar untuk menyukai buku dan membaca banyak hal.
Hari ini tepat bertambah usiamu yang sudah melebihi setengah abad. Aku hanya berharap kita selalu bersama dan selalu ada dalam masa hidupku nanti.
Selamat ulang tahun mamaku yang tidak ada duanya dan tidak tergantikan, semua tentang dirimu menginspirasi hidupku.
Bandung, 19 April 2019.



Comments