top of page

Village de Poupée

  • Writer: antika.rns
    antika.rns
  • Apr 14, 2019
  • 9 min read

Perjalananku kali ini mungkin menjadi yang terakhir dan tak ada yang tahu kemana jasadku menghilang. Liburan kali ini aku dan seorang temanku memilih untuk pergi ke sebuah desa terpencil yang kami temukan informasinya dari selebaran yang dikirim ke rumah temanku. Kami memutuskan untuk berlibur disana selama beberapa hari. Menyewa sebuah kamar di penginapan dan berkeliling desa sudah terbayang akan sangat menyenangkan bagi kami.

Tiba hari yang ditunggu kami berangkat menggunakan kereta pagi dan tiba disana siang hari.


“Village de Poupée”


Tulisan yang tertera di depan desa yang artinya desa boneka. Kami berpikir mungkin dinamakan begitu karena ada semacam produksi boneka atau sepanjang desa berhiaskan boneka, namun sepanjang perjalanan menuju penginapan tak satupun boneka yang kami lihat. Rasa lelah akibat berjalan membuat kami lupa akan hal itu.


Pemilik penginapan menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Ia juga menjelaskan bahwa ada restoran yang terkenal di sekitar sini dan memberi petunjuk jalan tempat mana saja yang harus kami kunjungi. Setelah menaruh barang dan beristirahat sejenak di kamar, aku dan temanku memutuskan untuk menuju restoran yang disebutkan pemilik penginapan. Saat akan melangkah keluar pintu ia memperingatkan agar kami tidak tersesat dan kembali sebelum gelap. Kami menanggapi seadanya dan berjalan keluar.


Cukup sulit menemukan restoran itu walaupun dengan petunjuk yang diberikan hingga kami tiba disana saat senja muncul. Hari mulai gelap kami pun bergegas kembali. Setalah setengah perjalanan langit berubah gelap dan hujan deras mulai turun. Kami berlari tak tentu arah hingga ke ujung jalan sepi dan berteduh di depan sebuah rumah besar yang terlihat usang namun megah.


Kami berdiam sejenak disana dan melihat petunjuk arah yang diberikan pemilik hotel, namun sayang kertas itu sudah basah oleh hujan dan kami tak tahu berada dimana. Setelah melihat sekeliling tak satupun terlihat rumah atau orang yang melintas. Suasana mulai mencekam dan satu-satunya harapan kami hanyalah meminta bantuan pada pemilik rumah besar ini. Di depan pintu tertera tulisan “Mon Mannequin” aku sedikit mengintip ke dalam jendela dan aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Di dalam sana di sebuah ruangan besar yang sedikit redup berjajar banyak sekali mannequin berbalut baju yang sangat indah. Ada yang berbalut baju pengantin, baju musim dingin, baju musim panas, baju tidur, dan itu membuatku terhipnotis. Aku berpikir mungkin rumah ini semacam museum atau sebuah rumah produksi pakaian, dan aku teringat dengan tulisan di depan desa tadi pagi. Mungkin inilah maksudnya dengan desa boneka, namun hal yang aneh jika memang ini sebuah tempat wisata kenapa berada jauh sekali dari peradaban desa dan sangat sepi.


Tanpa sadar temanku sudah mendahului mengetuk pintu rumah itu. Cukup lama tak ada jawaban hingga kami berpikir rumah ini sudah tidak ditinggali. Hujan tak kunjung reda tapi perasaanku mulai tak menentu, aku memaksa temanku untuk menerobos hujan dan menjauhi rumah ini namun temanku tak mau melangkah sedikitpun. Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya namun parasnya cantik sekali seperti boneka walaupun rambutnya mulai memutih. Ia menggenggam lentera di tangannya.


“Selamat malam, apa kalian tersesat?”


“Ya, kami tersesat dan ingin meminta bantuan untuk kembali ke desa.”


“Tapi hujan sangat deras lebih baik kalian menunggu di dalam mungkin secangkir teh bisa menghangatkan kalian dan baju yang kering.”


Aku ragu untuk menerima tawarannya karena kulihat jauh di raut wajahnya ada sesuatu yang berbeda. Namun kulihat temanku menyambut baik tawaran itu dan ia bergegas masuk ke dalam rumah. Sekilas kulihat tatapan iblis pada wanita itu dan senyumnya yang tak bisa diartikan.


Ia mengajak kami berkeliling rumah sebentar sambil berjalan ke dapur. Hampir seisi rumah dipenuhi mannequin wanita yang sangat cantik parasnya. Ia menjelaskan bahwa semua mannequin yang ada digunakan untuk memajang baju buatannya. Baju yang ia buat memang sangat indah dan belum pernah aku lihat baju semenarik itu, tapi ada satu yang ganjil dari semua yang ada di rumah ini. Semua tatapan mannequin itu seolah memperhatikan kami dan seolah memberi tatapan peringatan untuk segera lari dari rumah ini. Ada satu mannequin yang tak bisa aku lupakan parasnya. Ia memiliki rambut panjang pirang yang sangat indah dan tidak terlihat seperti rambut palsu, wajahnya cantik namun tatapan matanya sendu. Aku terhanyut pada mannequin itu dan samar-samar aku dengar suara dari mannequin itu seolah berkata cepat lari, sebelum aku mengerti wanita tua itu menarikku menjauh dari mannequin dan aku kembali sadar, ia berkata “Ayo minum teh untuk menghangatkan tubuhmu kita sudah tiba di dapur.”


Sepertinya hanya dapur inilah satu-satunya tempat yang tak ada mannequinnya. Dapur ini layaknya dapur biasa yang memiliki peralatan lengkap dan meja bundar di tengah ruangan. Ia menyuruh kami duduk disana dan ia membuat teh untuk kami sambil mengajak kami berbincang. Setelahnya ia duduk bersama kami di meja bundar dan melanjutkan ceritanya. Ia bilang bahwa dulu bercita-cita untuk menjadi desainer, ia berusaha keras mewujudkan mimpinya namun warga desa mencibir hasil karya yang ia ciptakan karena pada masa itu baju yang ia ciptakan terlihat aneh oleh warga sekitar. Hingga akhirnya ia menjauh dari desa dan membangun rumah ini, disinilah ia memproduksi semua pakaian dan mulai menjadi kaya. Setelah meraih sukses warga desa yang dulu mencibirnya tiba-tiba menjadi baik padanya namun ia masih dendam pada warga desa hingga akhirnya warga desa tidak pernah bertemu lagi dengannya. Menurut desas desus yang beredar banyak hal aneh yang terjadi di rumah itu sampai tidak ada warga yang berani dekat-dekat dengan wilayahnya.


Sayup sayup diantara suara wanita tua ini aku mendengar banyak sekali suara lirih yang saling berbisik tapi aku tak tahu darimana asalnya. Suara itu terdengar seperti suara wanita yang saling bersahut-sahutan dan yang paling jelas terdengar adalah bisikan untuk menyuruh kami pergi jauh dari rumah ini. Temanku seolah terhanyut dengan cerita wanita itu, kulihat tatapannya berubah jadi kosong dan seperti terkena mantra ia menuruti semua perkataan wanita tua itu.


Di luar hujan semakin deras dan malam sudah meninggi, wanita tua itu menyuruh kami untuk bermalam di rumahnya dan ia mengajak kami ke lantai atas. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya ke lantai atas. Semua ruangan yang ada di rumah ini memiliki lampu yang sangat redup membuat suasananya sangat mengerikan. Sekelebat aku melihat mannequin yang bergerak namun setelah diperhatikan tidak apa-apa disana. Sepanjang lorong menuju lantai atas kanan kiri kami dihiasi oleh mannequin lagi, namun kali ini mannequinnya terlihat berbeda. Paras mereka cantik namun tatapannya tajam dan seperti penuh dendam serta aura kengerian. Mereka berjajar seperti barisan tentara di sepanjang lorong. Aku berjalan paling belakang, temanku disamping wanita tua itu sambil berbincang. Tiba-tiba ada angin berhembus di belakangku dan terdengar bisikan “Kaulah selanjutnya.” Aku terkejut dan melihat ke belakang, mataku tertuju pada satu mannequin bergaun merah ala Victoria dan ia menyeringai ke arahku. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat ia seperti hidup dan siap membunuhku. Lagi-lagi aku tersadarkan oleh tarikan wanita tua itu dan berkata sebaiknya aku segera beristirahat karena terlihat sangat lelah dan mulai berhalusinasi.


Kami tiba di lantai atas. Dari ujung tangga ini terhampar ruangan yang sangat luas dengan banyak pintu yang katanya merupakan kamar dan salah satu ruangan kerjanya. Kamar wanita tua itu berada di ujung tepat lurusan tangga ini. Di ruangan luas itu ada beberapa sofa dan meja dan tentunya dikelilingi oleh mannequin yang lebih banyak lagi dengan baju yang terlihat lebih modern. Kamar kami berada di sebelah kanan pintu ke empat dari ujung tangga. Awalnya ia menyuruh kami untuk tidur di kamar terpisah, namun aku memaksa untuk satu kamar saja dengan temanku. Akhirnya wanita tua itu mengiyakan dan ia pun berjalan ke kamarnya.


Kamar ini sangat bagus dengan ranjang besar, lemari, meja rias, jendela besar yang menghadap ke arah desa di kejauhan. Di sudut sana ada mannequin lagi yang menghadap tepat ke arah ranjang. Wanita tua itu berkata agar kami memakai pakaian yang ada di lemari karena pakaian kami basah. Tanpa ragu temanku langsung memilih baju, membersihkan diri dan langsung tidur. Aku sampai terheran-heran sebenarnya dia ini terbuat dari apa bisa-bisanya ia percaya dengan orang asing di sebuah rumah yang mengerikan dan langsung tertidur seolah tidak ada apa-apa di rumah ini. Agar pikiranku tidak berjalan terlalu jauh akhirnya kuputuskan untuk tidur juga. Tetapi aku tak tahan dengan mannequin di sudut sana yang seolah memperhatikan kami. Aku memberanikan diri mendekati mannequin itu dan membalikkannya ke arah tembok. Aku pun terlelap.


Entah sudah pukul berapa malam terasa sangat panjang dan aku terbangun karena mimpi buruk. Saat aku membuka mata aku sangat sangat terkejut karena mannequin itu tepat berada di sampingku dan ia hidup. Aku mencoba membangunkan temanku namun ternyata ia tak ada di sampingku. Aku panik dan berlari keluar kamar. Namun aku tak percaya dengan apa yang kulihat semua mannequin yang ada disana hidup dan mereka mencoba untuk menangkapku. Aku berlari ke bawah menuruni tangga dan semua mannequin yang tadinya ada di samping kanan dan kiri lorong ini semuanya menghilang.


Kudengar dari arah atas ada yang mengejarku. Aku berlari entah kemana karena rumah ini sangat besar dan memiliki banyak sekali ruangan. Aku berlari hingga aku tak sadar menabrak sesuatu. Kulihat itu mannequin cantik yang ada di depan yang memiliki tatapan sendu. Namun kali ini ia tidak menyerupai mannequin, ia seperti manusia dan ia mengajakku masuk ke sebuah ruangan. Ia berkata “Cepat jika kau ingin selamat.” Aku mengikutinya masuk ke ruangan dan tiba-tiba ada cahaya putih yang menyilaukan. Tanpa sadar aku terbawa ke alamnya.


Dia berkata bahwa namanya adalah Ruth dia sama korban sepertiku yang mendapat undangan selebaran liburan ke rumahnya. Karena iklan yang menarik ia pergi dengan adiknya ke tempat ini dan entah bagaimana ia bisa terdampar di rumah ini dan mengalami peristiwa yang sama persis denganku. Ia tak selamat hingga akhirnya ia berubah jadi mannequin dan jiwanya terperangkap di rumah ini. Ia bercerita bahwa waktunya tak banyak untuk menjelaskan ini semua. Ia ingin agar tak ada lagi korban sehingga ia ingin membantuku karena aku mirip sekali dengan adiknya, dan ia sedih karena jiwa adiknya lebih memilih menjadi mannequin pendendam. Wanita tua itu sebenarnya adalah orang biasa, seorang desainer terkenal pada masanya. Ia hidup penuh kemegahan dan dikelilingi oleh banyak pria dalam hidupnya. Seiring bertambahnya usia wajahnya mulai berubah menua dan pria di sekelilingnya mulai meninggalkannya, hingga ia terobsesi oleh kecantikan. Ia ingin memiliki wajah secantik mannequin dan dengan buta arah ia menjual jiwanya pada iblis agar ia selalu cantik walaupun usianya sudah tua. Ia membuat perjanjian dengan iblis dalam setahun ia harus mengorbankan dua wanita muda di awal dan akhir tahun agar jiwanya berpindah ke tubuhnya hingga ia selalu muda dan wanita yang menjadi korban akan berubah menjadi mannequin.


Mulanya karena ia dendam dengan warga desa, ia menculik wanita muda di desa untuk dijadikan korban. Warga desa merasa takut dan kesal karena ulahnya sehingga mereka membuat kesepakatan agar tidak menculik wanita muda di desa lagi dan sebagai gantinya setiap tahun mereka akan mencarikan dua korban wanita muda untuk dirinya. Oleh karena itu pada waktu tertentu selalu ada selebaran pada orang terpilih untuk berlibur ke desa ini yang sebenarnya adalah untuk dijadikan korban ritual. Ruth juga berkata ada beberapa jenis mannequin di rumah ini. Mannequin yang berada di ruang depan tempat Ruth dan yang lainnya berada adalah wanita yang sama tertipu seperti dirinya dan bisa dibilang mereka adalah mannequin baik yang akan membantu calon korban agar selamat.


Mannequin yang berada di lorong dekat tangga adalah wanita warga desa yang jiwanya terjebak dan mendendam disana sehingga mereka menjadi mannequin yang jahat. Mannequin yang ada di dalam setiap kamar adalah mannequin penjaga jika ada calon korban yang datang. Terakhir mannequin yang ada di ruangan luas di atas adalah mannequin yang bertugas untuk menangkap dan menyiksa calon korban jika mereka hendak kabur dan sebagian membantu untuk melakukan ritual. Terkadang mannequin baik juga tak bisa membantu terlalu banyak jika ritual akan segera dimulai, karena lebih banyak jiwa yang mendendam dibanding jiwa yang pasrah.


Aku bertanya tentang temanku dan Ruth berkata bahwa ia sedang dipersiapkan untuk ritual dan jiwanya tidak akan selamat, ia mendesakku untuk segera keluar namun tiba-tiba Ruth menghilang dan keadaan menjadi gelap dan aku tak sadarkan diri. Sayup-sayup aku melihat mannequin gaun Victoria merah menghampiriku dan menyeringai lalu aku pun pingsan.


Aku terbangun dalam keadaan terikat di sebuah papan dan aku melihat di depanku sekelompok mannequin membuat lingkaran saling membacakan mantra dan di tengahnya adalah temanku yang perlahan-lahan tubuhnya mulai berubah menjadi mannnequin. Di ujung sana aku melihat wanita tua itu perlahan mulai berubah menjadi muda rambutnya kembali menghitam. Dan pada akhirnya temanku benar-benar telah berubah menjadi mannequin dan jiwanya terjebak di rumah ini. Kini ia berdiri di sampingku dengan berlinang air mata dan meminta maaf karena tidak mendengarkan perkataanku, di belakangnya aku melihat Ruth dan beberapa mannequin baik yang seperti terhalang oleh tirai tak kasat mata. Katanya selama ritual tempat ini terlindungi oleh semacam tirai mantra sehingga jiwa dari mannequin baik tak bisa menolong korban jika sudah masuk di ruangan ini. Perlahan temanku juga mulai tertarik keluar dan ia bergabung dengan Ruth, aku bersyukur karena jiwanya memilih untuk menjadi mannequin baik.


“Kini giliranmu yang akan melakukan ritual.” Aku terkejut mendengar suara itu dan setelah kulihat ternyata dia adalah mannequin gaun Victoria merah. Dia menyeretku ke tengah lingkaran namun aku berhasil lari.


*********************************************************************************************************


Kubuka mataku dan melihat hari sudah terang, ku berpikir sejenak apa yang barusan terjadi? Apakah itu hanya mimpi? Aku mendengar banyak suara di sekitarku, namun aku merasa seperti bukan diriku. Rasanya seperti dipenuhi oleh amarah dan kebencian. Aku pun tersadar tubuhku sudah berubah menjadi mannequin dan aku berada di antara barisan mannequin jahat yang jiwanya dipenuhi dendam. Di sampingku tepat berdiri mannequin Victoria gaun merah dan ia tersenyum padaku penuh arti. Dari tangga aku mendengar suara langkah kaki, namun tak kukenali, wajahnya cantik sekali sangat muda dan rambutnya hitam panjang terurai, ia memakai gaun berwarna biru terang dan berjalan mendekatiku seraya berkata, “Terima kasih berkatmu dan temanmu aku kembali muda dan cantik, kini kau menjadi koleksi kesayanganku dan selanjutnya tugas pertamamu tahun depan akan dimulai.”

 
 
 

Comments


Join our mailing list

Never miss an update

  • White Instagram Icon

© 2023 by Fashion Diva. Proudly created with Wix.com

bottom of page